BPIW Koordinasikan Dukungan Infrastruktur PU untuk Pengembangan Jaringan Perkeretaapian Nasional
Kementerian Pekerjaan Umum melalui Badan Pengembangan Infrastruktur Wilayah (BPIW) menggelar Rapat
Koordinasi Dukungan Infrastruktur PU dalam rangka mendukung Program Kerja Prioritas Nasional
Pengembangan Jaringan Perkeretaapian Nasional pada Jumat, 5 Juni 2026 di Jakarta. Rapat ini
bertujuan mengidentifikasi program dukungan sektoral sekaligus menyusun langkah tindak lanjut guna
mewujudkan jaringan transportasi yang terintegrasi, aman, dan berkelanjutan.
Membuka rapat, Kepala BPIW, Adenan Rasyid, menegaskan bahwa keterlibatan Kementerian PU merupakan
tindak lanjut arahan Presiden terkait perluasan jaringan kereta api di Sumatera, Kalimantan, Jawa,
dan Sulawesi demi efisiensi logistik. Peran PU tidak hanya terbatas pada penyelesaian perlintasan
sebidang, melainkan harus hadir menyeluruh melalui sinergi infrastruktur wilayah, mitigasi bencana,
serta penyediaan layanan dasar di sekitar simpul transportasi.
"Inti dari koordinasi ini adalah keintegrasian antara SDA, Bina Marga, dan Cipta Karya. Kami meminta
pengumpulan data dari masing-masing unit organisasi untuk penyusunan action plan dan rekomendasi
yang ditargetkan selesai dalam satu hingga dua minggu ke depan untuk dilaporkan kepada Menteri PU
dan menjadi bagian dari pembangunan yang terpadu hingga tahun 2029," ujar Adenan.
Menindaklanjuti arahan tersebut, perwakilan Direktorat Jenderal Bina Marga menyampaikan dukungan
peningkatan keselamatan melalui pembangunan flyover dan underpass pada perlintasan sebidang di jalan
nasional. Pihaknya juga menekankan pentingnya penetapan hierarki stasiun dalam Rencana Induk
Perkeretaapian Nasional (RIPNAS) sebagai dasar penentuan kebutuhan dukungan jalan menuju simpul
transportasi.
Sementara itu, perwakilan Direktorat Jenderal Sumber Daya Air (SDA) menyatakan kesiapan mendukung
pengendalian banjir, penguatan tanggul, normalisasi sungai, serta penyediaan air baku dan data
hidrologi. Langkah ini bertujuan menjamin keselamatan operasional dan keandalan jalur kereta api
dari risiko bencana serta perubahan iklim.
Pada kesempatan yang sama, perwakilan Direktorat Jenderal Cipta Karya memfokuskan dukungan pada
pengembangan kawasan sekitar stasiun melalui penyediaan air minum, pengelolaan limbah/persampahan,
penataan lingkungan, serta mendorong penerapan konsep Transit Oriented Development (TOD) guna
meningkatkan keterpaduan antara transportasi dan pengembangan wilayah.
Sementara itu, Direktorat Jenderal Pembiayaan Infrastruktur (DJPI) menyampaikan bahwa dukungan
pembiayaan perlu direncanakan secara matang melalui skema yang telah termuat dalam dokumen
perencanaan resmi. Saat ini, DJPI tengah menyiapkan Rencana Umum Proyek-Proyek KPBU di luar jalan
tol sebagai salah satu alternatif pembiayaan di luar APBN, termasuk melalui skema SBSN dan KPBU.
Menutup rapat, Kepala Pusat Pengembangan Infrastruktur PU Wilayah II, Airlangga Mardjono, menegaskan
bahwa seluruh masukan dari unit organisasi tersebut akan langsung diintegrasikan ke dalam rencana
aksi dan pembaruan Rencana Pengembangan Infrastruktur Wilayah (RPIW). Melalui sinergi lintas sektor,
pengembangan jaringan perkeretaapian nasional diharapkan dapat berjalan secara terpadu, aman, dan
mampu memperkuat konektivitas serta mendorong pertumbuhan wilayah di berbagai daerah Indonesia.
(Tasya)